Halo sobat E cersil jumpa lagi kita di hari yang indah ini, seperti biasa saya akan membagikan cerita silat dan kali ini saya akan membagikan cersil karya kho ping hoo yang berjudul Ouw Bin Hiap Kek atau dalam judul bahasa indonesia Pengemis Tua Aneh.

Untuk membaca cersil karya kho ping hoo lainnya silahkan klik tags Kho ping hoo di atas... Dan untuk membaca cersil Pengemis tua aneh silahkan klik link di bawah... Baca tutorial membaca cersil di blog ini biar gak pusing

Ouw Bin Hiap Kek
Pengemis Tua Aneh
Asmaraman S. Kho ping ho
GEDUNG Lie-wangwe, seorang hartawan bernama Lie Ti, merupakan rumah terbesar
dan terindah di kota Bi-ciu. Temboknya tebal dan tinggi, sedangkan pintunya
terbuat dari kayu gunung yang kuat dan diukir bagus sekali. Tiang-tiang bangunan
yang berbentuk bulat dicat aneka warna dan diukir-ukir pula. Di depan rumah
terdapat emper yang lebar yang berlantai batu licin dan bersih.
Lie Ti adalah seorang hartawan yang lahir kaya. Telah beberapa keturunan
keluarga Lie di kota Bi-ciu terkenal kaya karena majunya perdagangan mereka.
Mereka berdagang hasil bumi dan memiliki banyak rumah dan tanah. Keluarga Lie
bukan saja merupakan keluarga terkaya di kota itu, juga merupakan keluarga
tertua. Bahkan banyak orang berkata bahwa pendiri kota Bi-ciu adalah nenek
moyang Lie Ti sendiri.
Lie Ti suami isteri mempunyai dua orang anak. Keduanya laki-laki, yang pertama
bernama Lie Kiat dan yang kedua bernama Lie Bun dan pada waktu itu kedua kakak
beradik itu baru berusia tiga belas dan sepuluh tahun.
Pada suatu hari di musim panas, ketika matahari membanggakan kekuasaannya dan
memuntahkan cahaya dan panas ke muka bumi, seorang pengemis duduk meneduh di
emper gedung Lie-wangwe. Ia duduk bersandar tembok dan lantai batu yang dingin
itu, membuat ia duduk dengan enaknya dan perlahan-lahan datang rasa kantuk,
hingga tak lama kemudian pengemis tua itu melenggut-lenggut tidur ayam sambil
bersandar tembok. Kedua kakinya diselonjorkan dan sebatang tongkat bambu
melintang di atas pahanya.
Pengemis itu sudah tua, sedikitnya berusia lima puluh tahun. Pakaiannya penuh
tambalan-tambalan yang beraneka warna itu telah membuat pakaian itu tampak lucu
karena sukar dicari lagi mana kain aslinya. Karena tambalan itu dilakukan dengan
sembarangan dan bertumpuk-tumpuk, maka bajunya itu menjadi sangat tebal.
Rupanya selama dipakai, baju itu tak pernah dicuci, terbukti dari warnanya yang
kegelap-gelapan, kaku, dan mengeluarkan bau apek. Pengemis itu mengenakan celana
hitam yang tebal juga tapi panjangnya sampai batas lutut. Kakinya yang telanjang
dari lutut ke bawah tampak kurus kering dan betisnya hanya merupakan dua batang
tulang terbungkus kulit seperti kaki burung kuntul. Ia tidak pakai sepatu dan
telapak kakinya yang selalu beradu dengan tanah dan batu-batu yang panas menjadi
tebal dan kebal.
Rambut di kepala pengemis itu ganjil dan berbeda dengan orang biasa. Agaknya ia
gunakan pisau untuk memotong rambut sebatas telinga hingga rambut itu menjadi
kacau balau dan ngacung kesana sini. Tapi yang aneh, biarpun pakaiannya kotor,
kulit tubuhnya dari muka sampai ke kaki dan lengan tangannya tampak bersih
sekali seperti orang yang baru habis mandi. Juga muka yang kurus dengan mata
tertutup dan mulut ternganga itu tercukur bersih dan kulitnya kemerah-merahan.
Pada hari sepanas itu jarang tampak orang keluar pintu dan di jalan depan gedung
Lie-wangwe itu, hanya kadang-kadang saja kelihatan orang berjalan kaki tergesa-
gesa karena panas. Tapi tiap orang yang lewat di situ pasti menengok dan melihat
ke arah pengemis itu dengan heran. Bukan keadaan pengemis itu yang menarik
perhatian mereka, karena sesungguhnya tak seorangpun pernah melihatnya namun tetap saja ia
seorang pengemis seperti yang banyak sekali terlihat di mana-mana. Yang membuat
mereka terheran-heran adalah keberanian pengemis itu.
Lie-wangwe selain terkenal hartawan juga terkenal dermawan. Tapi semua orang
tahu bahwa hartawan itu sekali-kali tidak suka diganggu. Tak seorangpun boleh
dengan sesuka hati saja duduk diemper gedungnya tanpa keperluan penting. Dan
sekarang di situ duduk seorang pengemis kotor yang tidak hanya duduk, bahkan
melenggut
seenaknya seperti sedang duduk di atas pembaringan dalam kamar sendiri. Hal ini
merupakan kejadian baru yang dianggap aneh dan luar biasa, maka sekiranya hari
tak sepanas itu, tentu mereka akan berhenti dan menanti disitu untuk melihat apa
yang akan terjadi selanjutnya dengan pengemis aneh itu. Tapi hari terlampau
panas dan pintu yang tebal dari gedung hartawan Lie tertutup rapat hingga
mungkin takkan ada pelayan yang tahu tentang pengemis itu sampai ia pergi lagi
dari situ.

Baca selengkapnya dengan klik link di bawah
Baca cerita silat online, cerita silat pdf , ebook cerita silat, ebook cersil